Done it!

September 25th, 2007 by dinie

A long time ago…seorang teman
pernah mengingatkanku.. tentang,
betapa pendeknya hidup kita ini. Untuk menghargai hidup yang pendek ini, kita
sebaiknya menjalani setiap hari dengan optimisme layaknya ini adalah hari
terakhir kita di dunia (hah optimisme?? hell yea..)

 
I’ve been thinking about it for
some times…. Dan walau aku sangat mengerti ke mana arah pembicaraan teman
tadi sebenarnya, aku melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Dan akhirnya….
I’ve found my own conclusion :)

 
Kesimpulanku adalah…. aku ingin
sekali melakukan hal-hal baru yang selama ini belum sempat kuwujudkan…. Just
live my life….

 
Salah satu hal konkret yang telah
kulakukan…. Hm…. Hm…. Let’s just say…. I have this thing with height :) Entah
kenapa aku tidak pernah merasa nyaman berada di ketinggian…. Aku sendiri tidak
ingat kapan hal ini bermula…. Yang pasti, aku memang amat sangat menghindari
ketinggian. Ketakutanku ini memang terasa agak keterlaluan, apalagi akhirnya
aku bukan hanya menjadi takut ketinggian saja, aku pun menjadi freak out dengan
hal-hal lain yang berhubungan dengan jatuh, bila berada terlalu dekat dengan
pinggir sungai misalnya…atau bahkan berjalan di pematang sawah! Ketakutan ini
seringkali membelengguku. Seperti misalnya semasa SMP di SMP 6 Jogja. Setiap
awal cawu guru olahraga kami pasti mengadakan ujian lari. Ujian lari ini bukan
mengelilingi stadion atau sejenisnya. Melainkan melintasi pemukiman dan pedesaan tak jauh dari letak sekolah
kami. Teman-teman yang lain seringkali mengambil jalan pintas melewati
persawahan (karena guru olahraga kami tidak pernah repot-repot mengikuti ujian
lari ini.
Dia hanya menunggu
dengan manis di garis finish). Sementara aku?? Hiks… walau kaki ini sudah
luar biasa pegel dan rasanya mau copot… Aku terpaksa berlari di rute yang
sebenarnya dan melupakan jalan pintas melewati persawahan.
Kenapa? Karena aku takut ada ular? Kodok?
Tikus? Atau takut kena lumpur sawah? Salah semua! Yang benar ya tentu saja
karena aku takut melewati pematang sawah… Bodohnya… :|

 
Beberapa tahun kemudian, ketika akhirnya ak
u bekerja.. Aku sebenarnya telah mendengar bahwa
kami para ODP harus lah melewati tantangan outbond untuk membuktikan bahwa kami
memang orang yang tepat untuk pekerjaan ini.
Jadi outbond tadi jelaslah bukan sekedar ”just have
fun thing”, melainkan sesuatu yang berhubungan dengan penilaian kami. Daaan,
yaa, banyak permainan yang berhubungan dengan ketinggian di sini >:) Untuk
beberapa bulan, aku selalu ketakutan menanti datangnya hari outbond itu……
Singkat
kata, i would do anything to pass it! A-N-Y-T-H-I-N-G! Even killing…. :| (hehe,
kidding!)

 
Tapi apa dinyana, kita memang
harus menyadari bahwa kenyataan tak selalu seperti apa yang kita inginkan… dan
terkadang kita sebagai manusialah yang harus beradaptasi dengannya. Begitu pula
denganku.

 
Akhir tahun lalu, aku pun
menjalani outbond ODP ku… For your information, aku sangat-sangat stress sejak
beberapa hari sebelumnya. Enggak bisa tidur, mimpi buruk, cranky all they long,
being very sensitive, marah-marah enggak jelas sama semua orang, rasanya mau
nangis terus..…. Hoho…pokoknya I was very annoying at that moment, trust me! ;P

 
Tapi akhirnya aku melaluinya… And
guess what, aku melakukan semua tantangannya lho! Senaaaangnyaaaa…. :)

 
Pertama, Flying Fox… dan ini
bukan flying fox dari pohon ke pohon…. Ini flying flox dari atas tebing bukit
dengan melintasi lembah dan sungai di bawahnya.. Ketinggian yang enggak pernah
aku bayangkan sebelumnya….. Kalau bisa sih aku memilih dari tingkat empat GKU
baru saja deh.. :( I’m so freak out off course. Tapi setelah lamaaa
dibujuk-bujuk dan berusaha mengumpulkan semua nyali yang kumiliki untuk
mengalahkan rasa takut itu, akhirnya aku melakukannya…. And it really feels
great! Sensasi berada di ketinggian ternyata bisa menjadi sangat menyenangkan…
Aku benar-benar baru mengetahuinya. Dan aku bersyukur karena tidak melewatkan
kesempatan itu.

 
Yang kedua, ternyata lebih bikin
stres… yaitu melewati seutas tali dengan berpegangan pada satu tali
masing-masing di satu tangan. Aku lupa tepatnya apa nama permainan ini. Yang
pasti, komando benar-benar ada pada diri kita, karena tidak ada rel yang akan
menarik badan dari ujung ke ujung…. Kaki kita lah yang harus melakukannya!
Hiiiyy….Akhirnya, walau perlu 7 menit penuh perjuangan untuk berjalan, tapi aku
berhasil melewati tali langsing itu, yippie! Jantungku serasa mau copot dari
ototnya sesampai aku di ujung… Sekilas aku melirik ke bawah… hiy…. Not again!

 
Tantangan ketiga, even harder.. Mirip dengan yang kedua, hanya saja… kita
cuma punya 1 tali untuk berpegangan.
Jadi di sini keseimbangan lah yang
benar-benar harus dipertahankan. Aku sempat bertanya kepada instrukturnya,
”bagaimana kalau saya jatuh?”. Dengan enteng dia menjawab, “ya nanti dijemput
pake perahu di sungai, karena tali pengamannya

kan

panjang, jadi kalo jatuh bakal langsung
nyemplung ke sungai” What the!?@!? :| grmbl-grmbl… singkat cerita,
karena dilumuri dengan perasaan kesal dan gengsi untuk mundur, akhirnya aku pun
berhasil melewati tantangan ini dengan sukses!! Yeaaaa!

 
Tantangan-tantangan berikutnya
tidak berhubungan dengan ketinggian, jadi aku tidak ada masalah yang terlalu
berarti dengannya. Takut? Tentu ada perasaan takut awalnya, tapi tidak sama
seperti apa yang kurasakan untuk ketinggian.

 
In the end, moral dari cerita ini
adalah I’ve Done It! Walau sangat takut, tapi aku akhirnya tidak lagi lari dari
ketakutanku pada ketinggian. (Karena ya… selama ini aku selalu melarikan diri
darinya). Dan ternyata efek dari keberanian ini tidak hanya penting untuk
penilaian, melainkan juga membuat diri kita percaya bahwa kita benar-benar bisa
melakukan hal-hal baru, hal-hal yang selama ini kita kira tidak akan pernah
bisa kita lakukan…. And the great thing is, it’s kinda remind me, ke awal
cerita ini. Itu lho perkataan temanku, tentang hidup yang singkat. Ya, aku
percaya hidup kita ini memang singkat, jadi lakukanlah hal-hal baru sebanyak
mungkin, jangan ditunda-tunda lagi.. Sebagai manusia, kita memiliki banyak
sekali potensi, yang akan amat sayang bila tersia-sia hanya karena alas
an-alasan konyol yang sering kali kita buat-buat sendiri. Seperti aku dan
ketakutanku pada ketinggian :)

What’s on your face?

September 25th, 2007 by dinie

Sesama perempuan kadang-kadang kita merasa iri melihat perempuan lain yang
‘lebih’ dari kita. Lebih cantik, lebih putih, lebih langsing, kakinya lebih
panjang, rambutnya lebih bagus, atau lebih-lebih lainnya yang terkesan fisik
sekali.

 
Aku dan beberapa teman ODP pernah merasa seperti itu, yaitu di saat kami
berada di sekitar orang-orang Consumer Card Group :)) Yah, pasti kamu mengerti
apa yang aku bicarakan. Perempuan normal mana yang tidak akan merasa gak pede
dikelilingi perempuan-perempuan cantik nan modis yang berkumpul di satu
tempat..

 
Untuk mengatasi kejadian seperti itu, temanku akan mengatakan…
”tenang…. mereka mungkin punya tampang, tapi kita punya otak” :)) Yah,
pembelaan diri seperti itu yang sering kami, para perempuan ODP kemukakan untuk
tetap percaya diri! Telah lama diketahui… (kaya dongeng aja :D) bahwa memang
perempuan-perempuan ODP tidak hanya memiliki penampilan menarik (walau tidak
se..hm.. seatraktif perempuan-perempuan Cons Card Group tadi), tapi juga kami harus
memiliki otak untuk dapat mencapai apa yang sekarang kami miliki. Tidak cukup
hanya modal tampang memang… walau harus diakui, penampilan adalah salah satu
hal yang TIDAK BOLEH dilupakan. Karena well, pekerja di suatu perusahaan
haruslah mencerminkan perusahaan tempat dia bekerja. Dan bila kamu bekerja di
perusahaan yang menjual jasa, sangat penting sekali untuk selalu tampil
meyakinkan… Karena afterall, your appearance represents your company.

 
They taught us well in The John Robert Powers, bagaimana cara berdandan
untuk para wanita, bahkan cara berjalan dan duduk yang baik.. dan tentu saja
cara makan. Walau tentu saja, banyak hal yang tidak kupraktekkan dalam
kehidupan sehari-hari… (Karena rasanya enggak sepenting itu untuk duduk manis
tapi membuat kakiku pegal linu :P)

 
Yang kupraktekkan hanyalah konsisten berdandan setiap hari :D Yah, karena
pekerjaan ku di bank, dan aku memang harus berdandan. Dan pada dasarnya harus
kuakui bahwa memang aku adalah seorang pesolek. So, i enjoy it… :) I’ve learn
that…kita enggak perlu iri dengan perempuan lain yang lebih cantik atau
apapun. Aku percaya bahwa cantik itu memang perlu usaha. Bahkan orang yang
dilahirkan cantik pun perlu berusaha untuk mempertahankannya.
Everybody
can be beautiful, darling! That’s the power of make up :) (hoho…serasa make up
artist aja ngomong gini)

 
Suatu ketika aku
bertemu dengan teman lama, dan dia mengatakan bahwa itu adalah kali pertama dia
melihatku dengan make-up di wajah…
Tentu saja aku tidak berdandan
untuknya, i do it everyday now, for me… Yup, for me.. memang ada kepuasan tersendiri jika kita berpenampilan baik.
Yah, untuk orang perfeksionis seperti diriku, hal-hal seperti itu memang
penting :))

 
Sedikit bocoran
tentang kotak make-up ku, I’ll told u what’s on my face.. Hm..sehari-hari aku
memakai (sesuai urutan):

  1. Moisturiser
  2. Concealer untuk bawah mata
  3. Foundation
  4. Bedak tabur
  5. Blush on
  6. Eye shadow
  7. Eye liner
  8. Penjepit bulu mata
  9. Mascara
  10. Eye brow pencil
  11. Lip liner
  12. dan terakhir tentu saja
         lipstick

 
No 5-12 plus sebuah compact powder dengan cermin selalu ada
di dalam tasku ke mana pun aku pergi, Karena ….. setelah seharian kerja atau
setelah lari-lari, atau bahkan makan siang, kita perlu touch up. Terutama
setelah berwudhu ya girls…

 
Tuh, I’ve told u… :) gampang kaaannn (pasti sebagian besar
temen cewek yang gak suka dandan bakal semangat ngegebukin gw, gampang dari
Hongkong?!!? Huehehehehehe…). Tapi beneran deh, bisa karena biasa…. Kalau sudah
terbiasa tidak ada lagi perasaan bahwa itu adalah merepotkan dan sebagainya.
Afterall, perempuan kan memang makhluk yang cantik ;) And I do believe, girls have to be look like
girls (apa woman ya? ~~).

Voila, I’m here!

September 25th, 2007 by dinie

Hello there, yep I’m back…

Aku sendiri tidak tahu angin apa yang membawaku kembali ke
halaman hijau ini (I really must make-over this page!)… Selama ini sudah
beberapa orang yang memotivasiku untuk kembali menulis.

 
“Supaya tau kabarnya”, begitu kata mereka…. Sebenarnya
ingiiiiiiinnn sekali dari dulu melanjutkan menulis… Tapi entah kenapa begitu
banyak hal di kepalaku sampai-sampai aku sendiri membutuhkan waktu to untangle
my mind…fiuh..

 
Dan sampailah aku di sini, tidak terasa sudah dua tahun
lebih sejak posting terakhirku.. Wow,
kita memang tidak pernah bisa menduga ke mana hidup akan membawa kita ya

 
Terakhir posting,
aku bahkan belum menyelesaikan TA ku, masih berstatus mahasiswa… Dan
sekarang……
Wuih there are lot of changes in my life in this past two
years…

 
Hm… let me
start:

  1. Aku lulus kuliah! Haha, akhirnya :D

Aku menjalani sidang tugas akhir pada 9 Januari 2006, dan kurang dari dua
bulan kemudian, tepatnya 4 Maret 2006 aku resmi keluar dari Sabuga ;) bangganya…… hiks terharu…. (hiperbolis sekali!)

  1. I’ve got my first Job! J

Setelah gagal menjalani dua job interview, akhirnya aku diterima di sebuah
Bank nasional untuk mengikuti pendidikan sebagai calon officer mereka.
This
was a really dream job for me… Aku tidak lagi harus berkutat dengan
programming and stuff to make a living ;) sounds just perfecto!

  1. I
         thought I’ve found love of my life!

-okay, there won’t be any further
information bout this ;P- But don’t forget to underline the word ‘thought’

And a lot of other details… yang rasanya tidak perlu
dituliskan di sini… J

The point is… I’m
back!!
For good I hope J

Adakah manusia super?

May 23rd, 2005 by dinie

Pertanyaan itu sempat menari-nari dalam benakku beberapa waktu yang lalu. Namun
kemudian meredup dan terlupakan. Sampai dengan hari ini (20/05), seorang teman
menanyakan sesuatu yang membuatku teringat lagi akan hal itu.

 

Jadi, adakah manusia super? Bagaimana menurutmu? Masih relevankah ke-super
hero-an dalam realitas hidup masa kini? Mungkinkah seseorang benar-benar
menjadi manusia super?

 

Aku teringat pada masa-masa saat kurasa waktuku benar-benar bukan milik
diri ini sendiri. Kadang-kadang aku merasa iri pada teman-teman lain yang bisa
menghabiskan waktu untuk kepentingan pribadinya. Belajar sesuai SKS,
bercengkrama dengan keluarga, ikut les-les bahasa atau alat musik, dan masih
sempat jalan-jalan dengan teman, atau bahkan silaturahmi ke rumah saudara
dan teman-teman lama.

 

Kala itu, bila semangatku mengendur dan langkah ini mulai terasa berat,
pastilah aku akan dinasehati. ”Kita ini manusia super! Memang tidak sama dengan
yang lain. Saat kamu memilih jalan ini ada konsekuensi yang harus dibayar.”
Biasanya setelah itu, kemudian kuperbaiki semangat dalam dada ini dan kembali
kulangkahkan kaki dengan langkah-langkah panjang dan cepat. Melupakan semua
kemanusiaanku dan mencoba berubah wujud menjadi manusia super.

 

Banyak yang harus dilewatkan. Salah satu contoh adalah melewatkan kemesraan
dengan keluarga. Dulu aku amat sangat jarang meluangkan waktu dengan mereka.
Akhir pekan adalah waktu rapat, koordinasi, atau eksekusi program. Mana mungkin
aku menyempatkan diri untuk pulang kampung? Begitu pikirku dulu. Bahkan pada
akhir pekan yang panjang pun aku masih tetap berada di Bandung saat teman-teman
dengan gembiranya menceritakan rencana mudik mereka. Libur semester? Cuma satu
kali aku menikmati libur semester sesungguhnya, yaitu saat aku masih tingkat 1.
Setelah itu, paling lama aku akan pulang 4-5 hari saja. Ayahku berkali-kali
mengeluhkan hal ini, bahkan pada suatu ketika ia pernah berkata ”Kamu kalau
Papa minta pulang pasti ada aja alasannya”, yang sungguh membuatku miris.

 

Dengan teman-teman seangkatanku juga begitu. Tanpa terasa banyak hal yang
kulewatkan sehingga membuatku sering tertinggal berita. Hal ini baru kusadari sepenuhnya
saat tahun terakhir di kampus ITB (Insya Allah :P). Seringkali aku hanya dapat
menghadiri acara-acara serius dan tidak memprioritaskan acara-acara keakraban
di antara kami. Akibatnya aku banyak tidak aware dengan keadaan teman-teman.
Mungkin kalau secara umum masih dapat mengikuti, tapi tidak secara khusus
person per person.

 

Dalam kuliah…. hm… tahu sendiri lah… Kalau dibandingkan dengan
teman-teman yang lain kemampuan akademikku termasuk standar. Eksplorasi yang
kulakukan terhadap bidang studi juga tidak banyak. Nilai-nilaiku pun tak
istimewa.

 

 

Sekarang, setelah aku berada di tingkat 4, aku kembali memikirkan semua hal
di atas. Dan akhirnya kusadari bahwa aku telah melakukan kesalahan. Terlepas
dari ada tidaknya manusia super, adalah tidak benar menanggalkan kemanusiaan
seseorang dari dirinya.

 

Pada beberapa bulan terakhir ini kucoba memperbaiki beberapa hal. Hubungan
dengan keluarga misalnya. Aku tidak pernah bermaksud mengabaikan mereka dari
hidupku. Kepada merekalah aku akan kembali setelah ini Setidaknya aku ingin
mereka tahu bahwa aku peduli dan benar-benar mencintai mereka. Alhamdulillah
hal ini sudah semakin membaik hari demi hari.

 

Secara akademik, boleh dikatakan prestasiku meningkat drastis. Dan aku
merasa lebih memahami apa yang sebenarnya kupelajari dari kuliah dibanding
dahulu. Aku berusaha agar perasaan menyesal seperti ”aku dapet nilai jelek
bukan karena bodoh atau kuliahnya emang aku gak bisa, melainkan cuma karena gak
cukup belajar. Kalo aku bener-bener belajar, A mah kepegang” tak lagi
menghantuiku.

 

Sedangkan yang paling sulit memang adalah memasuki dunia teman-teman
seangkatanku yang lain. Mungkin aku sudah terlalu lama pergi sehingga
kehilangan jejak dan tak bisa mengejar rombongannya. Memperbaiki hubungan
dengan 83 orang lainnya memang bukan hal yang dapat dilakukan dalam sekejap
mata. Semoga saja masih sempat kulakukan sebelum tiba masanya perpisahan kami.
Amien.

 

Dan akhirnya, perenungan ini juga ditambah dengan beberapa hal lain yang
menggelitik pemikiranku.

 

Keberadaanku di ambang masa pasca kampus juga membuat mata ini dapat
melihat fenomena manusia-manusia super, yang ternyata tak sesuper dugaanku saat
mereka harus berhadapan dengan realitas kehidupan. Saat di mana role model mu
membuat pilihan-pilihan yang terasa tidak masuk akal dalam logika ke-super-an.
Mengacaukan segala definisi super dalam kepalamu.

 

Mungkinkah bahwa yang kukira super lurus ternyata adalah kekakuan semata
yang berada pada tempat yang tidak sesuai?

 

Aku tidak tahu apakah diriku memang salah didikan dalam memaknai
ke-super-an, ataukah memang kita semua benar-benar cuma manusia biasa? Jika
kita memang manusia biasa, seharusnya kita tak perlu malu untuk mengenakan
pakaian kemanusiaan dengan tetap berlomba-lomba berbuat kebajikan. Bukankah itu
esensi sesungguhnya? Karena kita manusia. Dengan aksi setajam pedang, tapi
bukanlah pedang. Dengan kecepatan seperti peluru, tapi bukanlah peluru. Punya
rasa, punya hati.

 


 

 

 

 

 

 

Two Big Books

May 19th, 2005 by dinie

Books..books…books… ada banyak macam buku yang suka kubaca, tapi kali ini aku ingin menulis mengenai dua buku yang cukup ‘spesial’. Spesial bukan karena they’re my favourite.. melainkan karena banyak sekali orang yang membicarakannya di luar sana, dan tidak jarang aku melihat, bertemu, atau bahkan mencuri pandang :P orang yang sedang membawanya.

Salah satunya adalah novel karangan Dan Brown. Ya, Dan Brown si penulis Da Vinci Code, sebuah novel thriller-seni-religi yang menghebohkan dunia bahkan sampai saat ini. Tapi bukan karya fenomenal itu yang ingin kubicarakan. Melainkan novel terdahulu Dan Brown. Ditulis kurang lebih tiga tahun sebelum Da Vinci Code. Yup, it’s Angels & Demons that i’m talking about :)

Sebenarnya aku agak kecewa setelah membaca DVC, endingnya kurang menggigit. Rasanya seperti naik roller coaster yang sangat curam dengan kecepatan super tinggi dari awal, tapi kemudian melambat… semakin melambat… and next thing you know… kamu berakhir di atas sebuah gondola di Venesia… Membosankan. Mungkin saran temanku memang tepat untuk ”mempersatukan” Dan Brown yang sangat konspiratif dan historikal tapi tumpul di ending, dengan Agatha Christie yang seringkali menulis ending secara brillian dan unpredictable. Hm… apa jadinya yah kalau ada novel duet? He..he..

Namun begitu, setelah mendengar banyak orang membicarakan Angel & Demons, mau tidak mau insting ’ingin membaca’ ku mulai tergugah untuk menilik karya Mr. Brown yang satu ini. Penasaran jadinya, apa sih isinya? Apa memang sebagus yang dikatakan orang-orang atau…. ini sekedar fenomena tipping point? :P Beberapa kali kurencanakan untuk membeli atau mencari pinjaman novel ini, namun karena memang bukan prioritas, seringkali pula terlupa. Sampai pada akhir pekan yang lalu aku melihat edisi original novel itu di Periplus Book Store. Ehm..very tempting… Harus kuakui bahwa buku itu nampak menggoda sekali untuk dibeli. Untung saja otak kiriku masih bekerja keras menghitung jumlah rupiah yang bisa kuhemat bila membeli edisi bahasa indonesianya saja.

Setelah berhasil menahan diri tidak membeli edisi original, ternyata godaan untuk membaca buku itu semakin tak tertahankan. Akhirnya hari Senin yang lalu kuputuskan untuk membeli the Indonesian version. Fiuh…senangnya…. Bukan cuma karena akhirnya bisa membaca novel itu, melainkan karena dari selisih harga versi indonesia dengan yang asli, aku masih bisa mendapatkan buku Tarbiyah Hasan Al Banna plus kembalian sebesar tiga belas ribu rupiah… he..he.. perhitungan banget yah?? ;) Oke, berikutnya aku menghabiskan kurang lebih 10 jam berkutat dengan novel super tebal yang merupakan cetakan ke tujuh itu (wauw, ternyata aku memang benar-benar terlambat ya membacanya. Kalau dibandingkan dengan DVC yang kumiliki, yang merupakan cetakan pertama edisi Indonesia), tidak termasuk waktu sholat, makan, dll. Penasaran rasanya ingin cepat menamatkan. Walau mata dan fisikku sudah agak lelah sisa UAS sostekin sore harinya, tetap saja kubuka terus lembar demi lembar.

Dan, taraaa.. keesokan harinya selesai juga.. fiuh… :)

Hm… satu kalimat yang terlintas di benakku setelah selesai membacanya ”aku paham kenapa DVC lah yang lebih dulu populer daripada Angels & Demons, padahal A&D diterbitkan lebih awal”. Alasannya, mungkin karena DVC tampil lebih matang dan tidak terjebak pada scene-scene yang enggak penting dan membosankan. Beberapa kali aku sempat merasa bosan membaca A&D (mungkin juga karena pengaruh letih), padahal rasa itu tak pernah kudapatkan saat membaca buku yang benar-benar menarik. Selain itu, menurutku DVC lebih elegan dalam membahasakan ceritanya. Aku sangat menyayangkan sedikit bumbu seksualitas yang tersamar pada A&D. Untung saja enggak terjerembab jadi Biru-nya Fira Basuki (no offense :P). Walau begitu, kuakui bahwa A&D memiliki jalan cerita yang lebih pelik, daaaan.. ending yang lebih menggigit daripada DVC. Aku sempat terjebak pada pemikiran ”hm….ternyata ini cuma novel religi katolik berkedok petualangan ”. Sempat kukira pula ini adalah semacam permintaan maaf Mr. Brown kepada pihak-pihak yang merasa tersinggungg atas DVC. Tapi setelah mengingat bahwa A&D ditulis jauh sebelum DVC…pemikiran itu jadi tampak tidak relevan. Dan akhirnya keanehan itupun ”dijawab” di akhir cerita. Sekali lagi Mr. Brown menunjukkan keberaniannya membuat urat syaraf beberapa pihak menegang.

Intinya, menurutku buku itu bagus. Tapi, aku tidak berniat memasukkannya dalam daftar buku favorit, dan juga tidak tertarik untuk merekomendasikannya ke orang lain. Masih banyak buku bagus yang lain ;) Buat yang enggak sependapat, hm…mungkin beda selera aja kali ya.. :) It’s OK kan..

Buku kedua yang ingin kubicarakan jugalah sebuah novel, maaf ya kalau terkesan enggak bermutu, ”novel mulu sih” :P Kebetulan masih berkisar novel religi. Pasti sebagian besar teman-temanku sudah pernah membacanya atau minimal pernah melihat deh. Novel ini sebenarnya merupakan cerita bersambung yang pernah dimuat di harian umum Republika. Nah, sudah ketebak pastinya ya. It’s ”Ayat-ayat Cinta”.

Pertama kali ku mendengar novel ini dari seorang teman dekat. Waktu itu aku agak heran karena tiba-tiba dia seperti bersikeras untuk meminjamiku novel tersebut ”bagus deh, nanti aku pinjemin”.. tumben gitu loh.. :D Tapi beberapa lama dia lupa membawanya. Aku tidak terlalu penasaran sih. Toh aku juga memang enggak tahu novel apa itu.

Sampai pada satu kesempatan aku sedang melihat-lihat di lapak buku bang Irfan di Gelap Nyawang. Dan aku melihat buku itu ’nangkring’ di tengah-tengah buku yang lain. Daaaan, seperti bisa ditebak, akhirnya aku pun membawanya pulang. Itu terjadi sekitar 3-4 bulan yang lalu.

Kudapati banyak sekali orang menyukai novel yang satu itu, entah kenapa. Menurutku, memang sangat menyenangkan membaca kalimat demi kalimat dalam novel karangan Habiburrahman El Shirazy itu. Masih terasa panasnya gurun sahara, keringnya tenggorokan pada siang hari di Mesir, dan segarnya ashir mangga.. hm… :P~ Cantik sekali cara penulis mengalirkan jalan cerita. Sederhana. Namun manis terasa.

Dari segi penulisan memang tidak ada yang mengecewakan. Namun, aku cukup kecewa dari sisi lain, yang sayangnya merupakan sisi terpenting dari sebuah cerita fiksi, yaitu jalan cerita. Agak tidak masuk akal dan tak realistis menurutku, atau kalau boleh kusebut sebagai ’an iritating imagination’. Hm…semoga tidak terlalu kejam. Tidak realistis karena penulis membuat sebuah karakter dengan kehidupan yang sungguh sempurna. Sempurna karena Fahri, si tokoh utama, diceritakan sebagai seorang laki-laki yang secara kebetulan ”dianugrahi” cinta dari seluruh tokoh wanita muda di novel itu. Kuamati bahwa satu-satunya tokoh wanita yang tidak jatuh cinta dengannya adalah tokoh figuran bernama Farah. Rasanya sungguh tidak masuk akal. Belum lagi karena tiba-tiba seorang wanita Turki cuantik dan luar biasa kuaya, yang baru dikenalnya dalam metro (semacam kereta api), menawarkan diri untuk menikah dengan si tokoh utama ini. Oh, cukup sudahlah segala omong kosong ini.

Tidak bermaksud pedas, tapi memang itulah pendapat yang kurasakan setelah membaca AAC. Seakan- akan inti cerita novel ini adalah refleksi impian setiap lelaki. Ceritanya dia hanya seorang lelaki sederhana yang tidak pede untuk melamar wanita manapun, namun tiba-tiba seluruh wanita jatuh cinta padanya, kemudian dia mendapatkan istri sempurna VERSI LAKI-LAKI, cantik dan kaya. Bahkan saat ’cobaan’ menerpanya, dengan segala kejanggalan diapun diangkat dari sana, dan seperti perkiraan semua orang……………. ceritanya berakhir dengan bahagia. Duh, please dong. Life isn’t that simple.

Padahal dari segi lain, novel ini sungguh merupakan perwujudan novel religius Islami yang sungguh menggugah jiwa. Catatan kaki yang diturutkan penulis juga menunjukkan niat mulianya untuk mendidik selain menghibur. Namun mengapa novel itu harus dibumbui dengan segala angan-angan yang terkesan ’maksa’.

Bahkan aku sempat khawatir kalau banyak orang yang membacanya akan berasumsi bahwa itulah gambaran kehidupan seorang aktivis (tokoh utama dalam novel itu dapat dikatakan seorang ’aktivis’). Penuh dengan keindahan yang tak terbayangkan sebelumnya. Padahaaal… hm… setauku jalan itu adalah jalan yang penuh onak dan duri. Aku sering melihat orang-orang yang mengorbankan mimpi-mimpi indah keduniawian mereka untuk digadaikan dengan idealisme.

Begitu khawatirnya, sampai-sampai aku meng-add yahoo ID si penulis buku dalam Ym! ku. Walau sayang ternyata dia suangat uamat juarang on line. Mungkin juga karena yahoo ID tersebut hanya dipakai untuk berhubungan dengan pembaca novelnya. Pernah suatu kali dia online (benar-benar cuma satu kali selama ini), namun aku terlalu bingung untuk memulai percakapan ”Halo saya pembaca novel Anda, saya rasa isi ceritanya terlalu memperpanjang angan. Sangat mengkhawatirkan”, enggak mungkin kan? ~~ Akhirnya, daripada stress… kutuangkan saja perasaan dalam blog ini. Hehe, becanda deng :P

Nah selesai deh membahas dua novel tersebut. Tangan dan leher saya sudah pegal-pegal karena mengetik di atas tempat tidur…hehe.. Mohon maaf untuk yang tidak sependapat ya. Tapi mau bagaimana lagi…i’m not gonna change my opinion, peace! ^^

Saat Muslif mencari ketua barunya………

May 4th, 2005 by dinie

Saat tulisan ini kubuat, Muslif _alias Muslim Informatika_ tengah memasuki masa-masa pencarian calon pemimpin barunya. Seorang informatikawan muslim yang mampu memimpin putaran roda da’wah di departemen kami tercinta.

Beberapa orang dari setiap angkatan diminta kesediaannya untuk bergabung dalam Tim Pemilihan, atau yang disebut sebagai syuro’ dalam bentuk dzahir, dengan jumlah anggota yang besar (17 orang tercatat sebagai anggota). Keterlibatanku di sana secara tidak langsung membuka mata ini bahwa aku benar-benar sudah ”tua” di kampus. Angkatanku adalah angkatan tertua dalam tim tersebut.

Lucu rasanya kalau menilik lagi ke belakang segala kenangan yang telah kumiliki bersama organisasi motor da’wah Informatika ini. Tak terasa sudah 4 kepengurusan sejak kumengenalnya.

Mas Alfin yang baik hati, mas Zacky yang sensitif, Ago teman berantemku, sampai Farid si master akademik pernah memegang tampuk kekuasaan tertinggi Muslif. Dan kini aku akan segera menyaksikan terpilihnya seorang pemimpin baru dari angkatan 2003.

Ingatanku melayang ke masa 4 tahun silam saat langkah kaki ini belum lagi mantap di kampus gajah. Muslif lah salah satu organisasi yang pertama kukenal. Kala itu aku jarang sekali berpartisipasi aktif dalam acara-acara yang diadakannya. Alasannya kerapkali kukaitkan dengan waktu pengadaan yang bertepatan dengan saat-saat mempersiapkan UTS di hari Rabu (acara sering diadakan pada hari Senin / Selasa sore). Kesannya sok ’SO’ sekali ya.. :P

Mungkin acara Muslif pertama yang kuikuti dengan full time adalah Traindi _Training Diniyah_ di bulan September tahun 2001, di mana dengan mengejutkannya aku terpilih sebagai peserta akhwat terbaik. (Heran ya, parameter mengukurnya apa sih, kok bisa aku yang ’bobrok’ ini dipilih ~~).

Setelah tingkat dua, aku menjadi lebih banyak terlibat dengan acara-acara Muslif, baik sebagai peserta maupun panitia. Terakhir kali diri ini diberi amanah dalam kepengurusan adalah sebagai Sekum, yang akhirnya dengan berat hati harus kulepas karena fokusku di Himpunan.

Setelah itu, waktu berlalu begitu cepat sampai datangnya hari ini. Hari yang dahulu tak pernah kuduga akan kualami. Siapa yang menduga sekarang aku duduk di sini, di hadapan layar monitor, menuliskan sedikit memory tentang Muslif sambil memikirkan siapakah calon terbaik yang akan diberi amanah untuk memimpin putaran rodanya.

Begitu cepat waktu berlalu. Begitu banyak yang telah kualami. Namun begitu sedikit yang telah kulakukan untuk membangun Muslif tercinta.

Kisah sedih di hari Kamis

April 30th, 2005 by dinie

 Pada hari yang menyedihkan itu seminar TA ku dilaksanakan. Jauh sebelumnya aku
sudah merasakan akan ada kejadian yang tidak mengenakkan. Kebetulan aku
mendapat ”kehormatan” untuk diuji oleh seorang dosen yang baru pulang dari Amrik,
ceritanya sih beliau baru saja menyelesaikan S3 pada bidang yang sama dengan
TAku. Dosen tersebut belum pernah menjadi penguji seminar, nampaknya aku
benar-benar menjadi ”the lucky number one” (saking beruntungnya, seminarku
seperti berubah menjadi killing field :P)

 

Oke lah, kehormatan itu masih bisa kuhadapi…. Untuk mempersiapkan diri
dari pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukannya, semua referensi yang ada
kubaca baik-baik dan kumengerti konsep dasar yang ada di baliknya. Pikirku,
”that’s all really matter”.


Ternyata tidak semua bisa diperkirakan.. :)


(Hari itu aku mendapat pelajaran berharga bahwa kita tidak bisa memegang
hanya perkataan saja, seringkali terjadi inkonsistensi pada satu saat dengan
saat yang lainnya.)


Selain menanyakan mengenai konsep TA, yang menurutku bukan pertanyaan yang
susah untuk dijawab, penguji menanyakan hal yang tadinya kukira sebagai sesuatu
yang tak perlu dipertanyakan lagi karena sudah jelas. (Well, ternyata aku salah
ya :P)


Pertanyaan-pertanyaan semacam: ”arah sebenarnya dari TA ku? ”.  Sekedar informasi, selama ini arah TA ku
adalah ke pembangunan perangkat lunak. Hal itu berkali-kali ditekankan oleh
dosen pembimbing, karena memang begitulah karakteristik yang diinginkannya. Walau
sebenarnya aku tidak menyukai programming, mau tidak mau aku mengikuti
permintaannya.


Dan terpukul rasanya saat dosen penguji bersikukuh bahwa seharusnya bukan
arah itu yang kuambil, melainkan arah riset. Kenapa terpukul? Karena saat itu dosen
pembimbingku mendadak ’berubah pikiran’ dan mengatakan ”iya betul, ini harusnya
riset”. Nah lho, bingung aku mau ngomong apa ”Lah yang dulu minta siapa ya?” ~~


Sepanjang seminar banyak lagi yang dipermasalahkan oleh dosen penguji. Dan
yang membuat aku semakin merasa ’dikhianati’, banyak dari hal-hal yang
dipermasalahkan tersebut adalah request dari dosen pembimbing. Seperti pemakaian
metode pembanding, dan masalah mengenai suatu fitur tertentu yang _guest what_, merupakan fitur yang diminta oleh
dosen pembimbing untuk ditambahkan. Penambahan yang membuat seminarku sempat mundur
2 minggu dari rencana awal.


Sementara pada saat seminar, penambahan itu seakan-akan menjadi hal yang
sangat lucu bagi sang penguji, sampai membuatnya tertawa kecil. Ugh! Teganya…Bahkan
dua orang teman juga mengajukan pernyataan serupa, yang membuat ku ingin
melempar pulpen ke arah mereka :P hehe, sori…


Rasanya saat itu aku ingin menuntut keadilan kepada dosen pembimbing dan
mempertanyakan kesepakatan antara kami selama ini, ”jadi apa artinya, apakah
bapak lupa akan semua ucapan bapak?”. 


Yang membuatku merasa sangat ’bodoh’ adalah, pertemuan-pertemuan kami selama
ini tidak pernah dituliskan sebagai perjanjian resmi yang ditandatangani. Jadi
aku tidak mempunyai dasar yang kuat untuk ’menuntut’, selain berdasarkan catatanku
kasarku, Kartu Bimbingan (yang sayangnya hanya memuat topik pembicaraan, bukan
kesepakatan), dan pengetahuan yang sama dari teman-teman yang juga menjadi anak
bimbingannya. Lemah sekali. :(

———————————————————————————————————————–


Fiuh….. overall, walau sempat merasa dikhianati, aku tidak benar-benar
bete kepada dosen pembimbing. Sejak awal, aku sudah mengetahui karakternya yang
dominan phlegmatis dan tidak suka mengundang konflik. Tentu saja ia jadi
tiba-tiba setuju dengan dosen penguji. (Tapi setidaknya kenapa enggak mencoba
menerangkan kepada penguji ya kalau memang arah seperti itulah yang ia
inginkan??!?) Mungkin aku memang berharap terlalu banyak…. Yang namanya
berharap kepada manusia lain memang tak bisa selalu berakhir seperti kemauan
kita.


Sementara itu, aku masih merasa sedikit ’jleb’ dengan pengujiku. Caranya
mengajukan pernyataan sungguh membuatku merasa tertikam, seperti ia tidak
menghargai pekerjaan yang telah kulakukan. Salah satu perkataannnya yang masih
terngiang jelas di kepalaku: ”saya mau ketawa bacanya,bla..bla..bla……”
ingin rasanya kujawab ”saya juga mau ketawa ngerjainnya”.


Aku tahu tidak seharusnya diri ini merasa marah dan semacamnya. Mungkin aku
malahan patut merasa bersyukur karena mendapatkan banyak kritik.
But one
thing for sure, hal itu jelas tidak kurasakan saat seminar selesai.


Saat itu aku merasa… gimana yah… wah, undescribable deh. Sangat down.
Mungkin
karena aku terlalu melankolis dan sensitif yah? (This is me, old habit never
dies :D ).  Yang kulakukan saat itu adalah
langsung miskol beberapa orang, banyak yang pasti :P  And i just can’t stop crying, tanpa terasa setiap kali berbicara
air mataku pasti meluncur keluar, hehe..cengeng bener yak! Sakit banget rasanya. Sampai-sampai beberapa orang
teman, langsung menghubungiku, dan bertanya apa yang menyebabkanku menjadi begitu
sedih. ”Biasanya kan dinie strong enough menghadapi cobaan, ada apa sih
sebenarnya?”


Ada positive sidenya juga kejadian hari itu, aku jadi tahu bahwa diriku ini
masih cukup beruntung dikelilingi beberapa orang baik yang
menyayangiku…hehehe…ge-er banget sih si dinie ini….. ;P

———————————————————————————————————————–

In the end of that day (yaitu
saat tulisan ini kubuat). Aku cuma berharap masih diberi kelapangan dada, dan
tentu saja kekuatan .. untuk move on….. karena rasanya kejadian hari itu benar-benar membuatku tercabik-cabik dan alergi
melanjutkan TA. Bahkan aku membuat sebuah keputusan besar untuk melupakan
wisuda di bulan Juli ;P Enggak mau ngejar deh.
It’s not worth it,
pikirku. Toh Oktober juga masih tahun 2005, enggak beda jauh kok. Walau tentu
saja aku akan kehilangan kesempatan mendaftar ke beberapa program scholarship
yang mensyaratkan kelulusan bulan Juli > cukup banyak lho.

Yah, kalo memang bukan rezeki ya
enggak akan dapet (paradigmanya aneh banget!), untuk saat ini aku cuma ingin
menjalani hidup yang lebih hidup seperti sedia kala (hiperbolis :P).. ingin
beraktifitas yang tak berhubungan dengan TA… Contohnya : makan, tidur… eeehh
salah, itu mah tiap hari yah, teteup! :D


Melanjutkan TA ? Break 3 hari rasanya sih cukup untuk mengobati
kekesalanku. Recharge sampai battery full ceritanya :) Toh saat kutuliskan
cerita ini, aku sudah merasa jauh lebih baik. Walau untuk mencapainya aku ’terpaksa’
harus menghabiskan segelas besar cream&cookie coffee, sepiring mie seafood,
3 buah kue, setengah porsi capcay, dan seporsi nasi goreng :))

Abi

April 17th, 2005 by dinie

Pernah punya adek kecil di rumah? Well, aku menjalani 20 tahun sebagai anak
bungsu..(dan sebenarnya masih jadi anak bungsu) sampai kehadiran seorang
makhluk kecil bernama Abi.

 

Kami tidak memiliki hubungan darah sedikit pun, tidak dari ayah, tidak pula
dari ibu. Tidak ada yang istimewa, begitu pikirku dulu.

 

Apalagi saat ia hadir aku tengah disibukkan dengan berbagai aktivitas di
kampus yang membuatku hampir tidak pernah pulang (padahal rumah cuma di
jakarta, deket banget gitu loh).

 

Tapi kini berbeda, si kecil Abi telah memiliki ruang khusus di hatiku
(bukan ngontrak loh!).

 

Bermula dari saat aku memutuskan untuk KP di jakarta, yang artinya aku bisa
menjalani 2 bulan penuh di rumah, sesuatu yang tidak pernah terjadi bahkan
sejak aku kelas 3 SMP.

Walaupun aku pulang cukup malam setiap hari… paling cepat pukul 18.30 dan
pergi pada pukul 6.15 keesokannya, interaksiku dengan Abi menjadi lebih intens
dibandingkan sebelumnya. Aku sering menemaninya bermain, belajar mengucapkan
kata-kata pertamanya, dan tertawa bersama.

 

Tanpa kusadari bayi kecil itu telah
mencairkanku, ia menawan hatiku.

 

Ritual pagi harinya sungguh menggemaskan. Biasanya ia akan bangun pada
pukul 5.30, lalu membuka sendiri pintu kamarnya (aku sungguh kaget waktu
mengetahui ia dapat melakukannya), kemudian berjalan menuju kamarku. Jika
kebetulan pintu kamarku terbuka, ia akan langsung menongolkan kepalanya,
melongok ke dalam dengan muka yang masih mengantuk. “cluk..” dan serta merta
meraih tanganku dengan manja..dan menarikku menuju kamarnya. So sweet…. ^^

 

How can i not love him?

 

Setelah aku kembali ke kampus, interaksiku dengannya kembali berkurang.
Pada semester ganjil yang lalu aku juga jarang pulang, kuliahku masih cukup
banyak.

 

Lain halnya dengan semester ini, sudah beberapa kali aku pulang ke jakarta
walau belum tengah semester, yah..minimal dua kali.

 

Kesukaanku saat sampai di rumah adalah, langsung menuju kamar Abi. Dari
tangga aku sudah bisa mendengar gelak tawanya yang sedang bermain dengan baby
sitter. Lalu aku akan berjalan pelan sampai lantai dua, begitu sudah dekat
dengan kamarnya, aku akan memanggil namanya…”mas Abi..!!” dan ia akan berhenti bermain dan langsung
berteriak-teriak kegirangan sambil berlari (setengah melompat malah) ke arahku.

 

Phiuhh…kalau sudah seperti itu, rasa capek karena perjalanan
bandung-jakarta langsung hilang tanpa bekas. Ada perasaan gembira yang enggak
bisa kujelaskan dengan kata-kata. Seperti meluap-luap.

 

Setelah itu, ia akan “menawan”ku selama beberapa saat, tidak mengizinkanku
untuk beranjak dari kamarnya walau aku masih dengan kostum lengkap bepergian
(bayi kan enggak mengerti hijab). Sampai akhirnya ayahku akan datang, dan
“menawan” nya sehingga aku bisa melarikan diri sebentar. Tidak jarang ia akan
berlari mengejar, dan menggedor-gedor pintu kamarku sambil menangis (entah
kenapa ia tidak bisa membuka pintu yang satu ini), dan begitu pintu terbuka, ia
akan menerjang masuk dan kembali menarik tanganku menuju kamarnya untuk
melanjutkan perrmainan. Entah main bola, pesawat-pesawatan, tembak-tembakan,
atau pedang-pedangan.

 

“Abi oh Abi….. Sedih rasanya karena aku tidak bisa menghabiskan banyak
waktu denganmu. Sungguh aku ingin melihat perkembanganmu dari hari ke hari,
membagi tawa dan tangismu. Mengajarkan nilai-nilai kebenaran padamu, dan tidak
membiarkan kebobrokan dunia menjadi landasan berpikirmu kelak.”

 

Walau tidak ada hubungan darah di antara kami, tapi aku merasakan adanya
“connection” yang undefinable dengan bayi sanguinis yang satu itu. Aku telah
menganggapnya sebagai my own fresh little brother, dan ingin melindunginya
seperti seorang big sister.

 

Melihatnya tertawa merupakan sebuah kebahagiaan yang tak tergantikan dengan
apapun, memeluk dan menciumnya membuat sesuatu dalam hatiku membuncah keluar,
seperti kembang api. It’s so great!

 

“Hi little brother, do you have a nice sleep tonight? Do you notice that
your big sister is thinking about you right now? Sweet dream my little angel…. :x

 

 

Kamu sih enak, bisa terserah(part 1)

April 17th, 2005 by dinie

Hayo tebak, apa maksud kalimat di atas?

Wah, daripada interpretasinya jadi macam-macam lebih baik saya mulai
ceritanya
:)

Bermula dari isu pernikahan yang sedang santer di sekelilingku, aku dan
seorang teman asyik membicarakannya, sampai ia bertanya

“kamu bentar lagi dong Din, kapan nih?”

“hue, enggak tau. Terserah aja kapan dipertemukan dengan orang yang tepat” jawabku sekenanya.

Dan terucaplah kalimat itu :“kamu sih enak, bisa terserah”

Alasan temanku mengucapkan kalimat ‘sakti’ itu karena menurutnya kaum adam
memiliki beban yang lebih berat dalam menuju jenjang pernikahan. “Kita mah
mesti cari duit, cewek kan enggak” begitu kira-kira penjelasannya.

Percakapan itu membuatku teringat pada thread milis if01 beberapa semester
yang lalu… Kalau enggak salah saat zaman KP, Juni tahun lalu. Waktu itu
pertama kali kami membahas topik “pacaran setelah nikah” yang akhirnya berkembang sampai ke masalah
kejantanan, enggak nyambung kan! Biasalah, milis if01 gitu loh :P Thread
tersebut sempat ramai selama beberapa waktu, yang seperti biasa diakhiri dengan
gosip-gosip tidak bertanggung jawab, salah duanya menyangkut diriku… (atau
tiga ya?) hm…hm…

Ya, intinya percakapan serupa mengalir kembali dari kepalaku….

Apa benar perempuan lebih enak, lebih gampang dan enggak repot kalau mau
menikah?

Apa benar laki-laki lebih susah, lebih banyak pertimbangan?

Hm… mari kita amati lebih lanjut dari sisi perempuan, setidaknya dari
sudut pandangku, i am a woman FYI.

———————————————————————————————————————–
Saat memutuskan untuk menikah, seorang perempuan akan dihadapkan pada dilema besar dalam hidupnya. Yaitu antara meraih
impian pribadinya atau menjalani kebahagiaan terindah sebagai ibu rumah tangga.
Aku sendiri sering berpikir kenapa kita harus memilih, apakah tidak bisa
semuanya berjalan secara paralel?

Sebagai anak perempuan yang dilahirkan tanpa seorangpun saudara laki-laki,
aku tumbuh dengan mendengarkan impian-impian my beloved father untukku. Yah,
sewajarnya orang tua, selalu menginginkan yang terbaik untuk putrinya. Ayah
selalu mengharapkanku untuk bisa menggapai segala sesuatu yang terbaik; sekolah
terbaik, nilai terbaik, pokoknya semua yang terbaik. Begitu juga dengan masa
depan, selalu ditekankan untuk “jadi orang” (bukan “jadi istri orang” yak.. ;P).


Mungkin itu yang dulu membangunku sebagai seorang dengan keinginan-keinginan
yang kuat, dan lurus. Seperti banyak orang lainnya, aku memiliki mimpi-mimpi
yang menggelitik, memohon untuk diwujudkan.


Lulus dari S1 Informatika, aku ingin melakukan berbagai hal baru, bertemu
berbagai macam orang dengan latar belakang yang berbeda….Hm…sounds great
:) Aku ingin merasakan hidup yang sesungguhnya,
dengan jerih payahku sendiri.


Tuh kan, lagi-lagi keluar sifat dinginku… Ingin mandiri, tidak tergantung
pada manusia lain. Duh, berubahlah dini!!


Jadi teringat, saat masih SMA dulu aku pernah bercita-cita untuk tinggal di
apartemen sendirian saat sudah bekerja nanti. Pulang kerja di malam hari, aku
bisa menikmati kesendirian di apartemen. Hm…. i’m a perfect example for a
city woman. Persisten, strong will, mandiri, dan individual banget. Itu yang
dulu sering dikatakan kakakku.


Apakah sekarang masih seperti itu? Yah, ada sedikit yang tidak berubah.


Namun sebuah paradigma baru juga menggelitikku. I am a woman, and like any
other woman tentu saja ingin membina keluarga nantinya.


Aku telah memahami pentingnya peran seorang Ibu to build a nation, “Ibu
adalah madrasah. Jika engkau mempersiapkannya dengan baik, maka engkau telah
membangun bangsa dengan baik”.


Ibu yang baik akan membawa keluarganya ke arah kebaikan, keluarga itu
nantinya akan membawa masyarakat di sekitarnya menjadi baik juga, begitu
seterusnya sampai seluruh bangsa menjadi baik. “Hanya” karena peran seorang
Ibu. Dahsyat!


Jadi kalau ada pertanyaan, "hal apa yang terpenting disiapkan untuk membangun keluarga pembangun bangsa?" jawabnya so pasti :  "calon ibu yang cerdas dan berakhlak mulia".


Aku sendiri, sebenarnya adalah seorang “family person”. Deep down inside
aku sangat menyayangi keluargaku, seperti dedaunan yang mencintai angin yang
meniupnya. Romantisnya… :”>


Aku ingin nantinya keluarga yang akan kubina mendapatkan cinta dan
perhatian seutuhnya dariku. Aku tidak mau anak-anakku harus ditinggal di rumah
setiap hari tanpa Ibu mereka. Aku ingin ada di sana saat mereka mencariku,
membutuhkanku, kemudian memberikan pendidikan yang pertama untuk mereka.


Namun, dengan menjadi “family person”, aku dihadapkan pada masalah lain.
Aku sangat menyayangi ayahku, seorang laki-laki
luar biasa yang telah membesarkan dua orang putri sendirian. I owe him million
of things. Dan aku benar-benar tidak ingin mengecewakannya, menghancurkan
mimpinya.


Saat pulang ke rumah di Idul Adha kemarin, aku memancing sebuah percakapan
cukup serius dengannya. Aku ingin tahu ekspektasinya terhadapku. Dari sana aku
tahu, ia masih menginginkanku menjadi orang yang dulu juga pernah kuimpikan, a
young talented and success career woman.


Bisakah dua impian berjalan secara paralel tanpa melukai satu pihakpun?


Ini yang aku maksud dengan “dilema yang dihadapi perempuan sebelum
memutuskan untuk menikah”.


Wahai kaum adam, kalian mungkin melihat bahwa beban kalianlah yang paling
berat, harus mencari nafkah bagi keluarga. Namun lihatlah lebih dekat ke dalam
diri perempuan (woi, ini jangan diartikan secara harfiah ya!). Tahukah kalian
mimpi-mimpi yang ada di kepala mereka? Pertentangan batin yang menyeruak ke
luar kesadaran mereka?


Di satu sisi, seorang perempuan yang berpendidikan tinggi akan mendapati
bahwa keluarga dan lingkungan menuntut ia menjadi “orang”. Being the gun, not
the (wo)man behind it. Cibiran atau bahkan tentangan keras akan didapatinya
bila ia memutuskan untuk “hanya” kembali pada fitrah keperempuanannya.


“kami tidak menyekolahkanmu tinggi-tinggi hanya untuk menjadi istri orang”

“tuh bener kan, akhirnya juga cuma di dapur. Apa saya bilang dulu, enggak
ada gunanya nyekolahin perempuan tinggi-tinggi”

“jadi S2 cuma untuk ganti popok bayi dan jaga rumah? Kasian banget deh!”

“wah, untuk menakar bumbu masakan perlu lulus S1 itb dulu ya?”

[hei kaum adam, pernah memikirkan enggak soal ini?]


Di sisi lain, pendidikan yang tinggi telah menyadarkan sebagian perempuan
itu mengenai pentingnya peran Ibu. Ibu yang cerdas dan berakhlak akan
melahirkan generasi-generasi yang cerdas dan berakhlak pula.


Two sides of a woman’s heart.


Susah kan. Jadi bagaimana dong?


Hehe, karena saya juga belum menikah, jadi gak berani memberi solusi di
sini. Takut salah, belum punya pengalamannya. [ayo..ayo.. mari kita bertanya
pada yang sudah menikah :D]


Tapi kalau boleh memberi satu gambaran, mungkin kuncinya terletak pada
pemilihan pasangan yang tepat, ho….ho… terdengar enggak nyambung ya? Yang
saya maksud dengan pasangan yang tepat adalah seseorang yang juga memiliki
kesadaran yang sama akan perannya (baik sebagai suami/ayah, maupun sebagai
istri/ibu), kepahaman akan konsep dan tujuan pernikahan yang benar dan
kepahaman akan fiqih realitas. Plus memiliki visi hidup yang tidak
bertentangan. Setelah itu, mungkin prinsip syuro’ bisa diambil bagi
kemaslahatan semua pihak.


Jadi teman-teman…tetap semangat yah, cewek atau cowok semuanya memiliki
tantangannya masing-masing kok. Tidak ada yang lebih berat atau lebih ringan, semuanya
merupakan pembagian peran yang super adil, seperti yin dan yang. Bila salah
satu rusak, rusaklah seluruhnya.   
:)


[direncanakan to be continued]

Generasi IF berjaya

March 28th, 2005 by dinie

Istilahnya tepat enggak ya? Iseng saja menyebutnya demikian… kenapa? Just one reason, menilik akhir-akhir ini banyak sekali kakak-kakakku yang menggenapkan setengah dien-nya.

Mulai dari mas Agus Pratondo IF96 (bener enggak ya?), i don’t know him actually… cuma tahu cerita tentangnya dari sesepuh-sesepuh yang lain..

Dilanjutkan dengan surprising news dari mas Zul dan mbak Devina.. (keduanya IF00) Waktu pertama kali dengar beritanya aku sedang dalam bis dari Bogor menuju Bandung (baru pulang DAT)..dalam keadaan menggigil kedinginan karena basah kuyup kehujanan, disms oleh seorang teman…. wow, kaget pisan waktu baca…(hehe.. maaf ya mas Zul :P) mengezutkan!

Setelah itu, berita selanjutnya datang lagi-lagi dari seorang mantan kahim… kali ini yang lebih senior, kang Rian, IF97.

Tidak berapa lama, berita yang paling surprising sekaligus membahagiakan datang padaku… Mbak Ema mau nikah…. Hm…who’s the lucky guy? Waktu diberitahu bahwa sang calon mempelai pria juga anak IF99, i’m getting happier…. siapa ya?? ;)

Dan ternyata that lucky guy is mas Arif. I never really know him, cuma tahu kalau dia dekat dengan seorang dosen paling banyak proyek di IF.

Tapi bagaimanapun, aku yakin bahwa dia adalah seorang yang baik dan sholeh..Kok bisa yakin? Ya, kalau dia enggak baik, enggak mungkin dapat mbak Ema dong.. (mba ema jangan terbang ya kalau baca ini :x)

In the end, i just can pray for their happiness “barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a banaikuma fi khair” semoga berkah Allah tetap untukmu, dan berkah Allah tetap ke atasmu dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan. Amien :)

PS: selamat juga untuk mas Cahyo (IF98), mba Irma (IF99), mba Fina (IF99) yang baru-baru ini telah menggenapkan setengah diennya pula.